The 7 Habits Of Highly Effective People

THE SEVEN HABITS OF HIGHLY EFFECTIVE PEOPLE

TUJUH (7) KEBIASAAN MANUSIA YANG SANGAT EFEKTIF 

BY STEPHEN R COPEY 

Assalamualaikum wr.wb
Saya Siti Rofifah Nur'aeni kelas 2B dari Prodi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sukabumi. Saya disini akan memberikan contoh dari 7 Kebiasaan yang ada dibuku "The Seven Habits Of Highly Effective People" by Stephen R. Copey

Kebiasaan 1 : Jadilah Proaktif - Be Proactive 
Bersikap proaktif adalah lebih dari sekedar mengambil inisiatif. Bersikap proaktif artinya bertanggung jawab atas perilaku kita sendiri (di masa lalu, di masa sekarang, maupun di masa mendatang), dan membuat pilihan-pilihan berdasarkan prinsip-prinsip serta nilai-nilai ketimbang pada suasana hati atau keadaan. Orang-orang proaktif adalah pelaku-pelaku perubahan dan memilih untuk tidak menjadi korban, untuk tidak bersikap reaktif, untuk tidak menyalahkan orang lain.

Contoh Umum :
Misal saya dipilih untuk menjadi bendahara dikelas dan setiap bulannya ada catatan laporan kepada wali kelas ketika dihitung uang dengan catatannya terdapat perbedaan, peran saya sebagai bendahara harus bisa mempertanggung jawabkan itu semuanya.

Contoh dalam dunia Keperawatan :
Didalam dunia keperawatan ada yang namanya Kode Etik, kita harus mengikuti kode etik tersebut dan bertanggung jawab dan tanggung gugat atas apa yang telah kita lakukan dan terjadi kepada klien.

Kesimpulan : Karena setiap apapun yang telah kita lakukan pasti ada pertanggung jawabannya.
^ From Me, For Me and by Me^ 

Kebiasaan 2 : Merujuk pada Tujuan Akhir - Begin With The End In Mind
Segalanya diciptakan dua kali – pertama secara mental, kedua secara fisik. Individu, keluarga, tim, dan organisasi, membentuk masa depannya masing-masing dengan terlebih dulu menciptakan visi serta tujuan setiap proyek secara mental. Mereka bukan menjalani kehidupannya hari demi hari tanpa tujuan-tujuan yang jelas dalam benak mereka. Secara mental mereka identifikasikan prinsip-prinsip, nilai-nilai, hubungan-hubungan, dan tujuantujuan yang paling penting bagi mereka sendiri dan membuat komitmen terhadap diri sendiri untuk melaksanakannya. Suatu pernyataan misi adalah bentuk tertinggi dari penciptaan secara mental, yang dapat disusun oleh seorang individu, keluarga, atau organisasi. Pernyataaan misi ini adalah keputusan utama, karena melandasi keputusan-keputusan lainnya. Menciptakan budaya kesamaan misi, visi, dan nilai-nilai, adalah inti dari kepemimpinan.

Contoh Umum :
Ketika kita mulai lelah kuliah tapi kita harus selalu ingat bahwa ada yang harus kita bahagiakan yaitu orang tua kita yang sudah banting tulang agar anaknya menjadi orang yang sukses dimasa depan. maka dari itu kita harus mempunyai "ROAD MAP OF MY LIFE" agar kerja keras dan mimpi kita terbayarkan dimasa depan kelak.

Contoh dalam dunia Keperawatan :
Jika kita bekerja di Rumah Sakit maka kita akan mempunyai tujuan yaitu untuk kesembuhan klien. Maka dari itu kita harus membantu kesembuhan dengan melakukan pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi dengan baik. Jangan lupa untuk melakukan komunikasi yang efektif dan perawatnya bersikap santun, sopan, ramah, baik agar mempercepat kesembuhan pasien.

Kesimpulan : Tidak ada yang namanya sia-sia jika kita terus bekerja keras.

Kebiasaan 3 : Dahulukan yang Utama - Put First Things First
Mendahulukan yang utama adalah penciptaan kedua secara fisik. Mendahulukan yang utama artinya mengorganisasikan dan melaksanakan, apa-apa yang telah diciptakan secara mental (tujuan Anda, visi Anda, nilai-nilai Anda, dan prioritas-prioritas Anda). Hal-hal sekunder tidak didahulukan. Hal-hal utama tidak dikebelakangkan. Individu dan organisasi memfokuskan perhatiannya pada apa yang paling penting, entah mendesak entah tidak. Intinya adalah memastikan diutamakannya hal yang utama.

Contoh Umum :
Seorang Mahasiswa memiliki kegiatan yang telah direncanakan dihari liburnya, kegiatan yang pertama : Menonton Film/Drama sedangkan ada yang harus dikerjakan untuk dikumpulkan besok. Jadi dia harus mengerjakan yang mana dulu ? Ya, Dia harus mengerjakan Kebutuhannya bukan Keinginannya yaitu mengerjakan tugas dahulu daripada menonton Film/Drama.

Contoh dalam dunia Keperawatan :
Kita sebagai perawat pasti harus mendahulukan kesehatan pasien tapi jangan lupa dengan kesehatannya perawat juga, misal ketika dijalan raya ada sebuah kecelakaan dan ada korban yang terluka berdarah dan kebetulan seorang perawat menyaksikan kejadian tersebut. Kemudian seorang perawat langsung ke TKP untuk menolongnya tapi seorang perawat tersebut tidak membawa handscoon atau alat pelindung diri yang lainnya, maka dari itu perawat tidak bisa langsung membantunya karna kita tidak tahu apakah korban memiliki penyakit yang serius atau tidak yang bisa menular lewat darah, dan sebaiknya perawat langsung menelpon rumah sakit terdekat.

Kesimpulan : Yang pertama Priorotaskan Kebutuhan dan Yang kedua Prioritaskan Keinginan 

Kebiasaan 4 : Berpikir Menang/Menang - Think Win-Win
Berpikir menang/menang adalah cara berpikir yang berusaha mencapai keuntungan bersama, dan didasarkan pada sikap saling menghormati dalam semua interaksi. Berpikir menang/menang adalah didasarkan pada kelimpahan – “kue” yang selamanya cukup, peluang, kekayaan, dan sumber-sumber daya yang berlimpah – ketimbang pada kelangkaan serta persaingan. Berpikir menang/menang artinya tidak berpikir egois (menang/kalah) atau berpikir seperti martir (kalah/menang). Berpikir menang/menang mendorong penyelesaian konflik dan membantu masing-masing individu untuk mencari solusi-solusi yang sama-sama menguntungkan. Berpikir menang/menang artinya berbagi informasi, kekuasaan, pengakuan, dan imbalan.

Contoh Umum :
Ada sebuah online shop yang menjual baju muslimah, dan dipost foto bajunya ke sebuah instagram nah online shop tersebut harus memposting fotonya secara real dan detail agar konsumen merasa puas dengan baju yang diimpikan, agar tidak ada yang dirugikan satu sama lain. Dan pelayanannya sangat ramah dan cepat jadi konsumen pun merasa senang. jadi saling menguntugkan satu sama lain.

Contoh dalam dunia Keperawatan :
Kita sebagai perawat akan menggali informasi dari pasien dan pasien akan menceritakan semua keluhannya kepada perawat agar tidak dipendam sendiri dan akan dibantu oleh perawat dan itu akan membatu perawat mendapatkan data-data dari penyakit pasien tersebut dan perawatpun akan membantu pasien untuk kesembuhannya.

Kesimpulan : Kita hidup harus Mutualisme - Saling Menguntungkan

Kebiasaan 5 : Berusaha untuk Memahami Terlebih dulu, Baru Dipahami - 
Seek First To Understand, Then To Be Understood
Kalau kita mendengarkan dengan seksama, untuk memahami orang lain, ketimbang untuk menanggapinya, kita memulai komunikasi sejati dan membangun hubungan. Kalau orang lain merasa dipahami, mereka merasa ditegaskan dan dihargai, mau membuka diri, sehingga peluang untuk berbicara secara terbuka serta dipahami terjadi lebih alami dan mudah. Berusaha memahami ini menuntut kemurahan; berusaha dipahami menuntut keberanian. Keefektifan terletak dalam keseimbangan di antara keduanya.

Contoh Umum :
Kita pasti mempunyai teman dan pasti ada yang suka dan ada yang tidak kepada kita. Jika ada orang yang tidak suka pada kita pasti kita akan bertanya-tanya kenapa ya dia tidak suka pada kita, apa karna ini itu nah daripada kita suudzon lebih baik kita ajak dia untuk berbicara "face to face" dan tanya kenapa dia tidak suka kepada kita, kita dengarkan dahulu penjelasan dia seperti apa dan setelah itu kita pahami... oh dia tidak suka kita karna kita begini begini begini dan di akhir kita meminta maaf jika kita telah berbuat kepada dia dan kemudian kita merubah diri kita menjadi lebih baik lagi.

Contoh dalam dunia Keperawatan :
Ada pasien yang menderita penyakit akut dan klien tersebut murung, nangis, tidak mau makan, nah peran kita sebagai perawat harus bisa menjadi pendengar yang baik untuk klien, pahami apa yang klien inginkan kepada kita baru setelah itu kita memberi solusi untuk klien tersebut.

Kesimpulan : Jika kita ingin dihargai orang lain maka kita harus menghargai orang lain terlebih dahulu.  

Kebiasaan 6 : Wujudkan Sinergi - Synergize
Sinergi adalah soal menghasilkan alternatif ketiga – bukan caraku, bukan caramu, melainkan cara ketiga yang lebih baik ketimbang cara kita masing-masing. Memanfaatkan perbedaan perbedaan yang ada dalam mengatasi masalah, memanfaatkan peluang. Tim-tim serta keluarga-keluarga yang sinergis memanfaatkan kekuatan masing-masing individu sehingga secara keseluruhannya lebih besar seperti ini mengenyampingkan sikap saling merugikan (1 + 1 = 1/2). Mereka tidak puas dengan kompromi (1 + 1 = 1 ½), atau sekedar kerjasama (1 + 1 = 2). Melainkan, mereka kejar kerjasama yang kreatif (1 + 1 = 3 atau lebih).

Contoh Umum :
Pada tanggal 17 Agustus disekolah kami diadakan sebuah perlombaan tarik tambang, setiap grup berisikan 6 orang. Karena perlombaan membutuhkan kekuatan yang extra untuk menarik tali tersebut, maka dari itu kelompok kami harus menyatukan kekuatan setiap orang agar tidak terjadi kerugiaan di kelompok kami.

Contoh dalam dunia Keperawatan :
Ketika seorang pasien telah dilakukan pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan saat dilakukan evaluasi oleh perawat ternyata masih ada keluhan yang dirasakan pasien. Maka dari itu Perawat harus melakukan Askep kembali. Dalam pendokumentasian data-data diri pasien tentunya kita harus mencari data misalnya kolaborasi data subjektif dan data objektif agar memperkuat diagnosa.

Kesimpulan : Bekerjasama akan menciptakan kehidupan yang tertib dan aman karena dapat berjalan sesuai rencana 

Kebiasaan 7 : Mengasah Gergaji - Sharpen The Saw
Mengasah gergaji adalah soal memperbaharui diri terus-menerus dalam keempat bidang kehidupan dasar: fisik, sosial/emosional, mental, dan rohaniah. Kebiasaan inilah yang meningkatkan kapasitas kita utnuk menerapkan kebiasaan-kebiasaan efektif lainnya. Bagi sebuah organisasi, Kebiasaan 7 menggalakkan visi, pembaharuan, perbaikan terus-menerus, kewaspadaan terhadap kelelahan atau kemerosotan moral, dan memposisikan organisasinya di jalan pertumbuhan yang baru. Bagi sebuah keluarga, Kebiasaan 7 meningkatkan keefektifan lewat kegiatan-kegiatan pribadi maupun keluarga secara berkala, seperti membentuk tradisi-tradisi yang merangsang semangat pembaharuan keluarga.

Contoh Umum :
Orang yang ingin menjadi individu yang lebih baik pasti akan terus merubah, memperbaiki dirinya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Contoh dalam dunia Keperawatan :
Kita sebagai perawat harus terus update tentang teknologi kesehatan yang baru dan terus memperbaharui tentang ilmu keperawatan sampai yang terupdate.

Kesimpulan : Jika kita terus mengasah apa yang ada dalam diri kita maka akan mempermudah kita meningkatkan kualitas keahlian diri kita sendiri.


~ TERIMA KASIH ~

Komentar